Fakir miskin dipelihara negara, begitu amanat UUD 1945. Begitu dulu impian para pembentuk negara tercinta ini.
Mungkin mereka akan sedih melihat kondisi sekarang ini.
Gambar ini diambil di depan Plaza Semanggi Jakarta, 16 Januari 2012.
Gambar ini diambil di depan Mega Bekasi Hyper Mall, 11 Februari 2012.
Tampilkan postingan dengan label 34.RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 34.RENUNGAN. Tampilkan semua postingan
Selasa, 28 Februari 2012
Minggu, 05 Februari 2012
AYO LAWAN KORUPSI ...
Semoga photo di atas benar-benar menunjukkan niat serius dan dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh lembaga yang memajang banner ini.
Gambar diambil pada tanggal 5 Oktober 2011.
Sabtu, 15 Oktober 2011
MASUKIN MOBIL KE CARPORT YUKKK ...
Kalau mengikuti definisi Wikipedia, Emper mobil (carport) adalah tempat menyimpan kendaraan di depan rumah yang tidak memiliki garasi ataupun memiliki kendaraan lebih banyak dari kapasitas garasi. Emper mobil biasanya dilengkapi atap dengan tujuan untuk melindungi kendaraan dari air hujan, embun malam dan terik cahaya matahari dan lantai yang diperkeras.
Alasan lainnya adalah keterbatasan lahan tidak memungkinkan disediakannya ruang untuk garasi karena garasi umumnya merupakan bagian dari bangunan rumah sehingga membutuhkan lahan yang cukup dan perencanaan khusus.
Beberapa perumahan dengan type bangunan 45 ke atas selalu menyediakan fasilitas ini, baik carport yang masih berupa tanah kosong atau sudah diberi atap. Berikut beberapa contoh rumah dengan 1 mobil yang terparkir cantik di dalam carport.
Sedangan di bawah ini adalah beberapa contoh rumah dengan 2 mobil di halaman rumah, baik yang asalnya hanya memiliki 1 carport atau membuat carport tambahan.
Sayangnya tidak semua menyadari fungsi carport tersebut. Ada kalanya orang menganggap jalan lingkungan di depan rumah adalah milik mereka juga.
Terkadang mereka lupa bahwa apa yang mereka beli hanyalah yang tercantum dalam akta jual beli dan sertifikat tanahnya saja.
Terkadang mereka lupa bahwa jalan lingkungan adalah fasilitas umum yang harus dijaga bersama keamanan dan kenyamanannya. Sementara carport dipenuhi kendaraan (motor, sepeda) dan barang-barang lain, mobil justru diparkir di jalan lingkungan.
Semoga beberapa gambar simulasi di bawah ini dapat memberikan penjelasan yang gamblang tentang pentingnya meletakkan mobil di dalam carport, khususnya untuk perumahan dengan jalan lingkungan yang tidak terlalu lebar atau posisi carport yang hampir berhadapan.
Simulasi di bawah ini menggambarkan jika mobil tetangga/tamu diparkir di depan rumah kita dengan posisi agak menjorok ke belakang. Akibatnya sulit bagi kita untuk mengeluarkan mobil tanpa menyenggol kendaraan bagian belakang mobil tetangga/tamu tersebut.
Sebaliknya, posisi tersebut juga menyebabkan kendaraan kita tidak bisa/sulit masuk rumah, sehingga akhirnya kita juga terpaksa memarkirnya di luar rumah untuk menghindari mobil tetangga rusak tersenggol kendaraan kita.
Bagaimana jika tamu/tetangga memarkir kendaraan di depan rumahnya yang juga tepat di depan pintu carport anda? Posisi ini lebih parah lagi karena kendaraan kita benar-benar tidak akan bisa keluar atau masuk rumah kecuali terlebih dahulu meminta pemiliknya memindahkan kendaraannya.
Simulasi di bawah menunjukkan bagaimana jika tetangga di sebelah kiri memarkir mobilnya di depan rumah dan tidak memarkir kendaraan ke dalam carport.
Simulasi di bawah menunjukkan bagaimana jika tetangga di sebelah kanan juga memarkir mobilnya di depan rumah dan tidak memarkir kendaraan ke dalam carport karena mobilnya terhalang mobil tetangga di depan rumahnya sehingga sulit untuk dimasukkan ke dalam carport.
Bagaimana jika kedua tetangga berhadapan rumah tersebut tidak memarkirkan mobilnya ke dalam carport dan lebih memilih untuk memarkirnya di jalan lingkungan? Mungkin para pemakai jalan yang melewati kedua mobil ini akan menghela nafas panjang dan mengurut dada. Bagaimana jika mobil PMK atau ambulance harus lewat karena keadaaan darurat?
Simulasi yang sama, tetangga di sebelah kiri memarkir mobilnya di depan rumah dan tidak memarkir kendaraan ke dalam carport.
Karena terhalang mobil tetangga di depan rumahnya sehingga sulit untuk dimasukkan ke dalam carport, akhirnya pemilik kendaraan di sebelah kanan terpaksa memarkir mobilnya di depan rumah.
Bagaimana akhirnya? Sudah bisa ditebak ... terjadi efek karambol parkir di depan rumah.
Masalah tersebut di atas sering menjadi klasik yang susah pemecahannya. Di satu sisi, mungkin kita tidak mau ribut dengan tetangga depan rumah, di sisi lain kita tidak menemukan cara untuk menyadarkan tetangga tanpa melukai perasaannya. Siapkah dengan jawaban "... lha mobil-mobil saya sendiri, kok ngatur-ngatur"?
Btw, mungkin kalau banyak orang yang merasa lebih nyaman parkir di luar rumah, dapat menyewa lahan kosong yang cukup lapang untuk dijadikan lahan parkir bersama. Dengan demikian tidak mengganggu kenyamanan para pengguna jalan, khususnya mereka yang taat memarkir rumahnya di dalam carport.
Alasan lainnya adalah keterbatasan lahan tidak memungkinkan disediakannya ruang untuk garasi karena garasi umumnya merupakan bagian dari bangunan rumah sehingga membutuhkan lahan yang cukup dan perencanaan khusus.
Beberapa perumahan dengan type bangunan 45 ke atas selalu menyediakan fasilitas ini, baik carport yang masih berupa tanah kosong atau sudah diberi atap. Berikut beberapa contoh rumah dengan 1 mobil yang terparkir cantik di dalam carport.
Sedangan di bawah ini adalah beberapa contoh rumah dengan 2 mobil di halaman rumah, baik yang asalnya hanya memiliki 1 carport atau membuat carport tambahan.
Sayangnya tidak semua menyadari fungsi carport tersebut. Ada kalanya orang menganggap jalan lingkungan di depan rumah adalah milik mereka juga.
Terkadang mereka lupa bahwa apa yang mereka beli hanyalah yang tercantum dalam akta jual beli dan sertifikat tanahnya saja.
Terkadang mereka lupa bahwa jalan lingkungan adalah fasilitas umum yang harus dijaga bersama keamanan dan kenyamanannya. Sementara carport dipenuhi kendaraan (motor, sepeda) dan barang-barang lain, mobil justru diparkir di jalan lingkungan.
Semoga beberapa gambar simulasi di bawah ini dapat memberikan penjelasan yang gamblang tentang pentingnya meletakkan mobil di dalam carport, khususnya untuk perumahan dengan jalan lingkungan yang tidak terlalu lebar atau posisi carport yang hampir berhadapan.
Simulasi di bawah ini menggambarkan jika mobil tetangga/tamu diparkir di depan rumah kita dengan posisi agak menjorok ke belakang. Akibatnya sulit bagi kita untuk mengeluarkan mobil tanpa menyenggol kendaraan bagian belakang mobil tetangga/tamu tersebut.
Sebaliknya, posisi tersebut juga menyebabkan kendaraan kita tidak bisa/sulit masuk rumah, sehingga akhirnya kita juga terpaksa memarkirnya di luar rumah untuk menghindari mobil tetangga rusak tersenggol kendaraan kita.
Bagaimana jika tamu/tetangga memarkir kendaraan di depan rumahnya yang juga tepat di depan pintu carport anda? Posisi ini lebih parah lagi karena kendaraan kita benar-benar tidak akan bisa keluar atau masuk rumah kecuali terlebih dahulu meminta pemiliknya memindahkan kendaraannya.
Simulasi di bawah menunjukkan bagaimana jika tetangga di sebelah kiri memarkir mobilnya di depan rumah dan tidak memarkir kendaraan ke dalam carport.
Simulasi di bawah menunjukkan bagaimana jika tetangga di sebelah kanan juga memarkir mobilnya di depan rumah dan tidak memarkir kendaraan ke dalam carport karena mobilnya terhalang mobil tetangga di depan rumahnya sehingga sulit untuk dimasukkan ke dalam carport.
Bagaimana jika kedua tetangga berhadapan rumah tersebut tidak memarkirkan mobilnya ke dalam carport dan lebih memilih untuk memarkirnya di jalan lingkungan? Mungkin para pemakai jalan yang melewati kedua mobil ini akan menghela nafas panjang dan mengurut dada. Bagaimana jika mobil PMK atau ambulance harus lewat karena keadaaan darurat?
Simulasi yang sama, tetangga di sebelah kiri memarkir mobilnya di depan rumah dan tidak memarkir kendaraan ke dalam carport.
Karena terhalang mobil tetangga di depan rumahnya sehingga sulit untuk dimasukkan ke dalam carport, akhirnya pemilik kendaraan di sebelah kanan terpaksa memarkir mobilnya di depan rumah.
Bagaimana akhirnya? Sudah bisa ditebak ... terjadi efek karambol parkir di depan rumah.
Masalah tersebut di atas sering menjadi klasik yang susah pemecahannya. Di satu sisi, mungkin kita tidak mau ribut dengan tetangga depan rumah, di sisi lain kita tidak menemukan cara untuk menyadarkan tetangga tanpa melukai perasaannya. Siapkah dengan jawaban "... lha mobil-mobil saya sendiri, kok ngatur-ngatur"?
Btw, mungkin kalau banyak orang yang merasa lebih nyaman parkir di luar rumah, dapat menyewa lahan kosong yang cukup lapang untuk dijadikan lahan parkir bersama. Dengan demikian tidak mengganggu kenyamanan para pengguna jalan, khususnya mereka yang taat memarkir rumahnya di dalam carport.
Label:
23.MENJAGA SILATURAHMI,
34.RENUNGAN
Selasa, 19 Juli 2011
SEKOLAH UNTUK APA? OLEH RENALD KASALI
Beberapa hari ini kita membaca berita betapa sulitnya anak-anak kita mencari sekolah. Masuk universitas pilihan, susahnya setengah mati. Kalaupun diterima, bak lolos dari lubang jarum. Sudah masuk, ternyata banyak yang "salah kamar". Sudah sering saya mengajak dialog mahasiswa yang bermasalah dalam perkuliahan yang begitu digali selalu mengatakan mereka masuk jurusan yang salah.
Demikianlah, diterima di PTN masalah, tidak diterima juga masalah. Kalau ada uang bisa kuliah di mana saja. Bagaimana kalau uang tak ada? Hampir semua orang ingin menjadi sarjana, bahkan masuk program S2. Jadi birokrat atau jendral pun, sekarang banyak yang ingin punya gelar S3. Persoalan seperti itu saya hadapi waktu lulus SMA tiga puluh tahun yang lalu, dan ternyata masih menjadi masalah hari ini. Bahkan sekarang, memilih SMP dan SMA pun sama sulitnya.
Mengapa hanya soal memindahkan anak karena pindah rumah ke sekolah negeri lain saja biayanya begitu besar? Padahal bangku sekolah masih banyak yang kosong. Masuk sekolah susah, pindah juga sulit, diterima di perguruan tinggi untung-untungan, cari kerja susahnya minta ampun. Lengkap sudah masalah kita.
Kalau kita sepakat sekolah adalah jembatan untuk mengangkat kesejahteraan dan daya saing bangsa, mengapa dibuat sulit? Lantas apa yang harus dilakukan orang tua? Jadi sekolah untuk apa di negeri yang serba sulit ini?
Kesadaran Membangun SDM
Lebih dari 25 tahun yang lalu, saat berkuasa, PM Malaysia Mahathir Mohammad sadar betul pentingnya pembangunan SDM. Ia pun mengirim puluhan ribu sarjana mengambil gelar S2 dan S3 ke berbagai negara maju. hal serupa juga dilakukan China. Tidak sampai sepuluh tahun, lulusan terbaik itu sudah siap mengisi perekonomian negara. Hasilnya anda bisa lihat sekarang. BUMN di negara itu dipimpin orang-orang hebat, demikian pula perusahaan swasta dan birokrasinya.
Perubahan bukan hanya sampai di situ. Orang-orang muda yang kembali ke negerinya secara masif me-reform sistem pendidikan. Tradisi lama yang terlalu kognitif dibongkar. Old ways teaching yang terlalu berpusat pada guru dan papan tulis, serta peran brain memory (hafalan dan rumus) yang dominan mulai ditinggalkan. Mereka membongkar kurikulum, memperbaiki metode pengajaran, dan seterusnya. Tak mengherankan kalau sekolah-sekolah di berbagai belahan dunia pun mulai berubah.
Di negeri Belanda saya sempat terbengong-bengong menyaksikan bagaimana universitas seterkenal Erasmus begitu mudah menerima mahasiswa. "Semua warga negara punya hak untuk mendapat pendidikan yang layak, jadi mereka yang mendaftar harus kami terima," ujar seorang dekan di Erasmus. Beda benar dengan universitas negeri kita yang diberi privilege untuk mencari dan mendapatkan lulusan SLTA yang terbaik. Seleksinya sangat ketat.
Lantas bagaimana membangun bangsa dari lulusan yang asal masuk ini? "Mudah saja," ujar dekan itu. "Kita potong di tahun kedua. Masuk tahun kedua, angka drop out tinggi sekali. Di sinilah kita baru bicara kualitas, sebab walaupun semua orang bicara hak, soal kemampuan dan minat bisa membuat masa depan berbeda,"ujarnya.
Hal senada juga saya saksikan hari-hari ini di New Zealand. Meski murid-murid yang kuliah sudah dipersiapkan sejak di tingkat SLTA, angka drop out mahasiswa tahun pertama cukup tinggi. Mereka pindah ke politeknik yang hanya butuh satu tahun kuliah.
Yang lebih mengejutkan saya adalah saat memindahkan anak bersekolah di tingkat SLTA di New Zealand. Sekolah yang kami tuju tentu saja sekolah yang terbaik, masuk dalam sepuluh besar nasional dengan fasilitas dan guru yang baik. Saya menghabiskan waktu beberapa hari untuk mewancarai lulusan sekolah itu masing-masing, ikut tour keliling sekolah, menanyakan kurikulum dan mengintip bagaimana pelajaran diajarkan. Di luar dugaan saya, pindah sekolah ke sini pun ternyata begitu mudah.
Sudah lama saya gelisah dengan metode pembelajaran di sekolah-sekolah kita yang terlalu kognitif, dengan guru-guru yang merasa hebat kalau muridnya bisa dapat nilai rata-rata diatas 80 (betapapun stressnya mereka) dan sebaliknya memandang rendah terhadap murid aktif namun tak menguasai semua subjek. Potensi anak hanya dilihat dari nilai, yang merupakan cerminan kemampuan mengkopi isi buku dan cacatan. Entah dimana keguruan itu muncul kalau sekolah tak mengajarkan critical thinking. Kita mengkritik lulusan yang biasa membebek, tapi tak berhenti menciptakan bebek-bebek dogmatik.
Kalau lulusannya mudah diterima di sekolah yang baik di luar negri, mungkin guru-guru kita akan menganggap sekolahnya begitu bagus. Mohon maaf, ternyata tidak demikian. Jangankan dibaca, diminta transkrip nilainya pun tidak. Maka jangan heran, anak dari daerah terpencil pun di Indonesia, bisa dengan mudah diterima di sekolah yang baik di luar negeri. Bahkan tanpa tes. Apa yang membuat demikian? "undang-undang menjamin semua orang punya hak yang sama untuk belajar," ujar seorang guru di New Zealand.
Lantas, bukankah kualitas lulusan ditentukan inputnya? "itu ada benarnya, tapi bukan segala-galanya," ujar putera sulung saya yang kuliah di Auckland University tahun ketiga. Maksudnya, test masuk tetap ada, tetapi hanya dipakai untuk penempatan dan kualifikasi.
Di tingkat SLTA, mereka hanya diwajibkan mengambil dua mata pelajaran wajib (compulsory) yaitu matematika dan bahasa Inggris. Pada dua mata pelajaran ini pun mereka punya tiga kategori: akselerasi, rata-rata, dan yang masih butuh bimbingan. Sekolah dilarang hanya menerima anak-anak bernilai akademik tinggi karena dapat menimbulkan guncangan karakter pada masa depan anak, khususnya sifat-sifat superioritas, arogansi, dan kurang empati. Mereka hanya super dikedua kelas itu, di kelas lain mereka berbaur. Dan belum tentu superior di kelas lain karena pengajaran tidak hanya diberikan secara kognitif semata.
Selebihnya, hanya ada empat mata pelajaran pilihan lain yang disesuaikan dengan tujuan masa depan masing-masing. Bagi mereka yang bercita-cita menjadi dokter maka biologi dan ilmu kimia wajib dikuasai. Bagi yang akan menjadi insinyur wajib menguasai fisika dan kimia. Sedangkan bagi yang ingin menjadi ekonom wajib mendalami accounting, statistik dan ekonomi. Anak-anak yang ingin menjadi ekonom tak perlu belajar biologi dan fisika. Beda benar dengan anak-anak kita yang harus mengambil 16 mata pelajaran di tingkat SLTA di sini, dan semuanya diwajibkan lulus di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
Bayangkan, bukankah cita-cita pembuat kurikulum itu orangnya hebat sekali? Mungkin dia manusia super. Seorang lulusan SLTA, tahun pertama harus menguasai 4 bidang science (biologi, ilmu kimia, fisika dan Matematika), lalu tiga bahasa (Bahasa Indonesia, Inggris dan satu bahasa lain), ditambah PPKN, sejarah, sosiologi, ekonomi, agama, geografi, kesenian, olahraga dan komputer. Hebat sekali bukan? Tidak mengherankan kalau sekolah menjadi sangat menakutkan, stressful, banyak korban kesurupan, terbiasa mencontek, dan sebagainya. Harus diakui kurikulum SLTA kita sangat berat. Sama seperti kurikulum program S1 dua puluh tahun yang lalu yang sejajar dengan program S1 yang digabung hingga S3 di Amerika. Setelah direformasi, kini anak-anak kita bisa lulus sarjana tiga tahun. Padahal dulu butuh lima tahun. Dulu program doktor menyelesaikan di atas 100 SKS, makanya hampir tak ada yang lulus. Kini seseorang bisa lulus doktor dalam tiga tahun.
Anda bisa saja mengatakan, dulu kita juga demikian tapi tak ada masalah kok! Di mana masalahnya? Masalahnya, saat ini banyak hal telah berubah. Teknologi telah merubah banyak hal, anak-anak kita dikepung informasi yang lebih bersifat pendalaman dan banyak pilihan, namun datang dengan lebih menyenangkan. Belajar bukan hanya dari guru, tapi dari segala resources. Ilmu belajar menjari lebih penting dari apa yang dipelajari itu sendiri, karena itu diperlukan lebih dari seorang pengajar, yaitu pendidik. Guru tak bisa lagi memberikan semua isi buku untuk dihafalkan, tetapi guru dituntut memberikan bagaimana hidup tanpa guru, Lifelong learning.
Saya saksikan metode belajar telah jauh berubah. Seorang guru di West Lake Boys School di Auckland mengatakan, "Kami sudah meninggalkan old ways teaching sejak sepuluh tahun yang lalu. Makanya sekolah sekarang harus memberikan lebih banyak pilihan daripada paksaan. Percuma memberi banyak pengetahuan kalau tak bisa dikunyah. Guru kami ubah, metode diperbaharui, fasilitas baru dibangun," ujar seorang guru.
Masih banyak yang ingin saya diskusikan, namun sampai di sini ada baiknya kita berefleksi sejenak. Untuk apa kita menciptakan sekolah, dan untuk apa kita bersekolah? Mudah-mudahan kita bisa mendiskusikan lebih dalam minggu depan dan semoga anak-anak kita mendapatkan masa depannya yang lebih baik.
Rhenald Kasali
Ketua Program MMUI
(diposting oleh Pak Irhamna Robby untuk Milis Blok S)
Senin, 18 Juli 2011
SURAT DARI IBU UNTUK ANAK PEREMPUAN

Wahai anakku, ibu benar-benar bersyukur karena engkau telah menemukan jodohmu yang ditentukan oleh Allah bagimu.
Kini engkau memang masih anakku, tapi suamimu lebih berhak atasmu daripada aku.
Jika suatu saat engkau menghadapi masalah dalam rumah tanggamu, janganlah engkau datang menemui ibu sebelum engkau menyelesaikannya baik-baik dengan suamimu.
Suamimu memang manusia biasa, dia bisa khilaf dan salah, maafkanlah kesalahannya jika ada, jangan mendendam,
Tetaplah patuh kepadanya selama dia tidak memerintahkan engkau ke jalan yang dilarang Allah.
Anakku, suamimu tentu tak sanggup memberimu tiket ke surga, tapi engkau sendiri akan memperoleh tiket ke surga dari hasil amalmu, perbuatanmu, sikapmu dan kepatuhanmu kepada suamimu.
Jadilah ma'mum yang baik, ikuti apa yang diarahkan sang imam.
Jika suamimu keliru, ucapkanlah "subhanallah" dan ingatkan dia akan kekeliruannya dengan lemah lembut.
Insya Allah, Sang Maha Pengasih akan tetap mengarahkan suamimu ke jalan yang benar.
Janganlah menghardik atau berkata kasar kepada suamimu. Jika engkau menghormati suamimu maka engkau akan kelihatan terhormat juga, karena suamimu adalah pakaianmu.
Anakku, bahagiakanlah suamimu, janganlah menolak jika suamimu berhasrat melakukan hubungan suami istri. Jika engkau tak berkenan karena ada sebab, sampaikanlah dengan mesra dan lemah lembut.
Anakku, aku adalah ibu yang melahirkanmu, tapi ketahuilah ibu dari suamimu adalah ibumu juga, dia adalah ibu yang membanggakanmu, karena engkau akan memberinya cucu.
Anakku, suatu saat aku sudah tidak ada, ibu mertuamu juga tidak ada, engkau berdualah yang mengarungi samudera kehidupan yang mungkin dihiasi dengan riak dan ombak, kadang kecil kadang besar. Lewatilah semua itu dengan tetap tawakkal kepada Allah SWT. Jangan gampang menyerah dan berputus asa.
Anakku, syukurilah selalu atas nafkah yang diberikan kepadamu oleh suamimu, jangan lihat besar dan kecilnya. Berdoalah kepadaNYA karena rezki manusia ditentukan olehNYA. Suamimu akan bersedih hati jika engkau tak bersyukur atas jerih payahnya. Jangan biarkan malaikat di langit ikut bersedih karena kesedihan suamimu.
Anakku, semoga engkau cepat dikarunia anak, penyejuk pandangan, penghibur di kala duka, pelengkap di kala suka. Sampaikan salam ibu pada suamimu, dia adalah anakku juga, yang kubanggakan.
(diposting oleh Pak Taqyuddin untuk Milis Lentera Hati)
SURAT DARI IBU UNTUK MENANTU LAKI-LAKI

Wahai menantuku,
Aku hanyalah seorang ibu yang berbicara atas nama diriku sendiri dengan melihat putriku sebagai istrimu dan engkau sebagai menantuku.
Jika engkau membaca pesan ini, semoga engkau melihat pula bayang wajah Ibu yang telah mengandung dan melahirkanmu, berdiri bersamaku tepat dihadapanmu.
Wahai menantuku,
Engkau imam dunia akhirat untuk putriku. bukankah engkau juga akan membawanya hingga ke baka dan memberinya satu tiket ke surga.
Wahai menantuku,
Jika ada kelemahan dari istrimu dan seribu lagi keburukan yang dilakukannya akibat kelemahan dan juga karena kekurangan darinya, itu menjadi tugasmu untuk mendidiknya sekarang dan bukan lagi menjadi tugasku.
Diajarkan kepadamu oleh Nabi bahwa seorang suami tak boleh membiarkan mata istrinya basah walau hanya serupa tetesan embun dini hari.
Bukankah engkau sebagai suaminya yang harus melindunginya dengan rasa tentram dan aman. maka berikanlah keteduhan bagi jiwanya?
Engkau suami yang dipilih Allah SWT untuk putriku, bersabarlah terhadap istrimu dan tetaplah bersikap lemah lembut padanya.
Bukankah engkau menikahinya atas nama Allah SWT, maka sayangi dan peliharalah istrimu dengan jalan Allah?
Wahai menantuku,
Sebagian besar penghuni neraka adalah perempuan dan itu disebabkan mereka durhaka terhadap suaminya, maka selamatkanlah istrimu dari dosa yang lebih besar.
Bukankah nantipun engkau akan ditanya tentang tanggung jawab bagaimana kau mengurus mereka dan menjaga jalan surga untuk bisa dilalui oleh yang harus kau bawa serta? Dan pertanyaan itu ditujukan padamu bukan padaku?
Wahai menantuku,
Engkau di ijinkan menghukum istrimu sewajarnya namun janganlah mengenai wajahnya dan jangan pula menyentuh tubuhnya hingga meninggalkan jejak luka.
Janganlah menghardiknya dengan kata-kata kasar dan umpatan yang merendahkan seolah engkau turut menistakan dirimu sendiri sebab ia itu pakaianmu.
Wahai menantuku, aku titipkan putriku padamu. Buatlah dia tersenyum menuju surga atas tiket darimu...
(kiriman teman via BB)
BUNG HATTA DAN SEPATU BALLY

Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu itu. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.
Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Pada hal, jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sangatlah mudah bagi beliau untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.
Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini.
Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain.
Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.
Pendapat Meutia Hatta (Salah satu anak Bung Hatta)
Kesederhanaan keluarga Bung Hatta serta sangat kokohnya mantan wakil presiden itu berpegang pada prinsip mungkin dapat disimak dari penuturan Meutia mengenai kisah sebuah mesin jahit. Sewaktu ayahnya masih menjadi orang nomor dua di republik ini, ternyata untuk membeli sebuah mesin jahit pun tidak bisa dilakukan begitu saja. Menurut antropolog dari Universitas Indonesia tersebut, ibunya -Rahmi Hatta- harus menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta.
Namun rencana membeli terpaksa ditunda, karena tiba-tiba saja pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp 100 menjadi Rp 1. Akibatnya, nilai tabungan yang sudah dikumpulkan Rahmi menurun dan makin tidak cukup untuk membeli mesin jahit. "Karena ikut terkena dampak adanya keputusan sanering tersebut, Ibu kemudian bertanya pada Ayah kok tidak segera memberi tahu akan ada sanering. Dengan kalem Ayah menjawab, itu rahasia negara jadi tidak boleh diberitahukan, sekalipun kepada keluarga sendiri" kata istri ekonom Prof Dr Sri-Edi Swasono itu.
Pendapat Ny. Rahmi Hatta (Istri Bung Hatta)
Di tahun 1950-an, ketika Bung Hatta masih menjabat sebagai wakil presiden Republik Indonesia, keteguhan prinsipnya kembali tercermin dalam kehidupan keluarga. Pada saat sekarang, mungkin saja peristiwa yang saya alami itu dapat direnungkan kembali.
Pada suatu waktu, uang Republik Indonesia (ORI) mengalami pemotongan. Seperti halnya para ibu rumah tangga lainnya, di masa itu saya sedang menabung karena saya berniat untuk membeli sebuah mesin jahit. Tentu dapat dibayangkan betapa kecewanya hati saya saat itu. Ketika Bung Hatta pulang dari kantor, saya mengeluh, "Aduh, Ayah ?! Mengapa tidak bilang terlebih dahulu, bahwa akan diadakan pemotongan uang ? Yaaa, uang tabungan kita tidak ada gunanya lagi! Untuk membeli mesin jahit sudah tidak bisa lagi, tidak ada harganya lagi.?"
Keluhan wanita mungkin mempunyai alasan tersendiri. Tetapi seorang pejabat negara seperti Bung Hatta menjawab, "Yuke, seandainya Kak Hatta mengatakan terlebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan disampaikan kepada ibumu. Lalu kalian berdua akan mempersiapkan diri, dan mungkin akan memberi tahu kawan-kawan dekat lainnya. Itu tidak baik!"
Kepentingan negara tidak ada sangkut-pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sunggguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapapun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya?"
Akhirnya sebagai seorang istri saya sepenuhnya dapat memahami prinsip suami saya itu. Berkat pengalaman hidup bersama bertahun-tahun, keyakinan saya terhadap prinsip Bung Hatta makin besar pula. Prinsip itu juga yang menyadarkan saya, agar saya tidak perlu menghalangi sikapnya ketika Bung Hatta berniat untuk meletakkan jabatannya sebagai wakil Presiden Republik Indonesia.
(diposting oleh Pak Mirzon untuk Milis Blok S)
Jumat, 16 April 2010
JAKARTA: IN NEED OF IMPROVEMENTS

Andre Vitchek
Worldpress.org contributing editor
July 26, 2007
Today, high-rises dot the skyline, hundreds of thousands of vehicles belch fumes on congested traffic arteries and super-malls have become the cultural centers of gravity in Jakarta , the fourth largest city in the world. In between towering super-structures, humble kampongs house the majority of the city dwellers, who often have no access to basic sanitation, running water or waste management.
Pada saat ini, gedung pencakar langit, jalanan macet dipadati oleh ratusan ribu kendaraan, dan mal-mal raksasa telah menjadi pusat kebudayaan Jakarta, yang notabene merupakan kota terbesar ke-4 di dunia. Terjepit di antara gedung tinggi, terhampar perkampungan di mana bermukim sebagian besar penduduk Jakarta yang tidak memiliki akses sanitasi dasar, air bersih atau pengelolaan limbah.
While almost all major capitals in the Southeast Asian region are investing heavily in public transportation, parks, playgrounds, sidewalks and cultural institutions like museums, concert halls and convention centers, Jakarta remains brutally and determinately 'pro-market' profit-driven and openly indifferent to the plight of a majority of its citizens who are poor.
Di saat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain, trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN.
Most Jakartans have never left Indonesia , so they cannot compare their capital with Kuala Lumpur or Singapore ; with Hanoi or Bangkok. Comparative statistics and reports hardly make it into the local media. Despite the fact that the Indonesian capital is for many foreign visitors a 'hell on earth,' the local media describes Jakarta as "modern," "cosmopolitan, " and "a sprawling metropolis."
Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok. Liputan dan statistik pembanding juga jarang ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing Jakarta merupakan NERAKA DUNIA, media massa setempat menggambarkan Jakarta sebagai kota "modern", "kosmopolitan" , dan "metropolis" .
Newcomers are often puzzled by Jakarta 's lack of public amenities. Bangkok, not exactly known as a user-friendly city, still has several beautiful parks.
Even cash-strapped Port Moresby, capital of Papua New Guinea, boasts wide promenades, playgrounds, long stretches of beach and sea walks. Singapore and Kuala Lumpur compete with each other in building wide sidewalks, green areas as well as cultural establishments. Manila, another city without a glowing reputation for its public amenities, has succeeded in constructing an impressive sea promenade dotted with countless cafes and entertainment venues while preserving its World Heritage Site at Intramuros. Hanoi repaved its wide sidewalks and turned a park around Huan-Kiem Lake into an open-air sculpture museum.
Para pendatang/wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi Jakarta yang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal sebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan. Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah.
But in Jakarta , there is a fee for everything. Many green spaces have been converted to golf courses for the exclusive use of the rich. The approximately one square kilometer of Monas seems to be the only real public area in a city of more than 10 million. Despite being a maritime city, Jakarta has been separated from the sea, with the only focal point being Ancol, with a tiny, mostly decrepit walkway along the dirty beach dotted with private businesses.
Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau diubah menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik di kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini. Meskipun menyandang predikat kota maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunya lokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.
Even to take a walk in Ancol, a family of four has to spend approximately $4.50 (40,000 Indonesian Rupiahs) in entrance fees, something unthinkable anywhere else in the world. The few tiny public parks which survived privatization are in desperate condition and mostly unsafe to use.
Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 orang anggota keluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu hal yang tak masuk akal di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecil kondisinya menyedihkan dan tidak aman.
There are no sidewalks in the entire city, if one applies international standards to the word "sidewalk." Almost anywhere in the world (with the striking exception of some cities in the United State, like Houston and Los Angeles) the cities themselves belong to pedestrians. Cars are increasingly discouraged from travelling in the city centres. Wide sidewalks are understood to be the most ecological, healthy and efficient forms of short-distance public transportation in areas with high concentrations of people.
Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota (tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar "internasional" ). Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecuali beberapa kota di AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil seringkali tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota . Trotoar yang lebar merupakan sarana transportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, dan ramah lingkungan di daerah yang padat penduduk.
In Jakarta , there are hardly any benches for people to sit and relax, and no free drinking water fountains or public toilets. It is these small, but important, 'details' that are symbols of urban life anywhere else in the world.
Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk duduk dan rileks, tidak ada keran air minum gratis atau toilet umum. Ini memang remeh, tapi sangat penting, merupakan suatu detil yang menjadi simbol kehidupan perkotaan di bagian lain dunia.
Most world cities, including those in the region, want to be visited and remembered for their culture. Singapore is managing to change its 'shop-till-you- drop' image to that of the centre of Southeast Asian arts. The monumental Esplanade Theatre has reshaped the skyline, offering first-rate international concerts in classical music, opera, ballet, and also featuring performances from some of the leading contemporary artists from the region. Many performances are subsidized and are either free or cheap, relative to the high incomes in the city-state.
Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah citra kota belanjanya menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, di samping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi dan seringkali gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi.
Kuala Lumpur spent $100 million on its philharmonic concert hall, which is located right under the Petronas Towers, among the tallest buildings in the world. This impressive and prestigious concert hall hosts local orchestra companies as well top international performers. The city is currently spending further millions to refurbish its museums and galleries, from the National Museum to the National Art Gallery.
Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser philharmonic yang terletak persis di bawah Petronas Tower, salah satu gedung tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan grup orkestra lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dan galeri, dari Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.
Hanoi is proud of its culture and arts, which are promoted as its major attraction millions of visitors flock into the city to visit countless galleries stocked with canvases, which can be easily described as some of the best in Southeast Asia. Its beautifully restored Opera House regularly offers Western and Asian music treats.
Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaan turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitung jumlahnya, di mana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Gedung Operanya yang dipugar secara reguler mempertunjukkan pagelaran musik Asia dan Barat.
Bangkok's colossal temples and palaces coexist with extremely cosmopolitan fare international theater and film festivals, countless performances, jazz clubs with local and foreign artists on the bill, as well as authentic culinary delights from all corners of the world. When it comes to music, live performances and nightlife, there is no city in Southeast Asia as vibrant as Manila.
Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya, dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia. Kalau bicara musik dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara yang semeriah Manila .
Now back to Jakarta. Those who have ever visited the city's 'public libraries' or National Archives building will know the difference. No wonder; in Indonesia education, culture and arts are not considered to be 'profitable' (with the exception of pop music), and are therefore made absolutely irrelevant. The country spends the third lowest amount in the world on education (according to The Economist, only1.2 percent of its GDP) after Equatorial Guinea and Ecuador (there the situation is now rapidly improving with the new progressive government).
Nah, sekarang balik ke Jakarta . Siapapun yang bernah berkunjung ke "perpustakaan umum" atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap "menguntungkan" (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan. Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 di dunia (menurut The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif).
Museums in Jakarta are in appalling condition, offering absolutely no important international exhibitions. They look like they fell on the city from a different era and no wonder the Dutch built almost all of them. Not only are their collections poorly kept, but they lack elements of modernity there are no elegant cafes, museum shops, bookstores or even public archives. It appears that the individuals running them are without vision and creativity. However, even if they did have inspired ideas, there would be no funding to carry them out.
Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun semuanya. Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik. Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan, meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan ketiadaan dana.
It seems that Jakarta has no city planners, only private developers that have no respect for the majority of its inhabitants who are poor (the great majority, no matter what the understated and manipulated government statistics say). The city abandoned itself to the private sector, which now controls almost everything, from residential housing to what were once public areas.
Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang swasta yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin (mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang seringkali DIMANIPULIR pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga ke area publik.
While Singapore decades ago, and Kuala Lumpur recently, managed to fully eradicate poor, unsanitary and depressing kampongs from their urban areas, Jakarta is unable or unwilling to offer its citizens subsidized, affordable housing equipped with running water, electricity, a sewage system, wastewater treatment facilities, playgrounds, parks, sidewalks and a mass public transportation system.
Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura, dan baru-baru ini di Kuala Lumpur, mereka berhasil menghilangkan total perkampungan kumuh dari wilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau tidak mau memberikan warganya perumahan bersubsidi dengan harga terjangkau yang dilengkapi dengan air ledeng, listrik, sistem pembuangan limbah, taman bermain, trotoar dan sistem transportasi massal.
Rich Singapore aside, Kuala Lumpur with only 2 million inhabitants boasts one metroline (Putra Line), one monorail, several efficient Star LRT lines, suburban train links and high-speed rail system connecting the city with its new capital Putrajaya. The "Rapid" system counts on hundreds of modern, clean and air-conditioned buses. Transit is subsidized; a bus ticket on "Rapid" costs only $.60 (2 Malaysian Ringgits) for unlimited day use on the same line. Heavily discounted daily and monthly passes are also available.
Selain Singapura, Kuala Lumpur dengan berpenduduk hanya 2 juta jiwa memiliki satu jalur Metro (Putra Line), satu monorail, beberapa jalur LRT Star yang efisien, dan jaringan kereta api kecepatan tinggi yang menghubungkan kota dengan ibu kota baru Putrajaya. Sistem "Rapid" memiliki ratusan bus modern, bersih, dan ber-AC. Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2 Ringgit (kurang lebih Rp 4.600,00) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang hari di jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah juga tersedia.
Bangkok contracted German firm Siemens to build two long "Sky Train" lines and one metro line. It is also utilizing its river and channels as both public transportation and as a tourist attraction. Despite this enormous progress, the Bangkok city administration claims that it is building an additional 50 miles (80 kilometers) of tracks for these systems in order to convince citizens to leave their cars at home and use public transportation. Polluting pre-historic buses are being banned from Hanoi, Singapore, Kuala Lumpur and gradually from Bangkok. Jakarta, thanks to corruption and phlegmatic officials, is in its own league even in this field.
Bangkok menunjuk kontraktor Siemens dari Jerman untuk membangun 2 jalur panjang "Sky Train" dan satu jalur metro. Bangkok juga memanfaatkan sungai dan kanal sebagai transportasi publik dan objek wisata. Pemerintahan kota Bangkok juga mengklaim bahwa mereka sedang membangun jalur tambahan sepanjang 80 km untuk sistem tersebut guna meyakinkan penduduk untuk meninggalkan mobil mereka di rumah dan memanfaatkan transportasi umum. Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi di Hanoi , Singapura, Kualalumpur, dan Bangkok. Jakarta? Berkat korupsi dan pejabat pemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang berkebalikan dengan kota-kota tersebut.
Mercer Human Resource Consulting, in its reports covering quality of life, places Jakarta repeatedly on the level of poor African and South Asian cities, below metropolises like Nairobi and Medellin.
Mercer Human Resource Consulting, dalam laporannya tentang kualitas hidup, menempatkan Jakarta di posisi setara dengan kota-kota miskin di Afrika dan Asia Selatan, bahkan di bawah kota Nairobi dan Medellin
Considering that it is in the league with some of the poorest capitals of the world, Jakarta is not cheap. According to the Mercer Human Resource Consulting 2006 Survey, Jakarta ranked as the 48th most expensive city in the world for expatriate employees, well above Berlin (72nd), Melbourne (74th) and Washington D.C. (83rd). And if it is expensive for expatriates, how is it for local people with a GDP per capita below $1,000?
Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota terburuk di dunia, hidup di sana tidaklah murah. Menurut Survey Mercer Human Resource Consulting tahun 2006, Jakarta menduduki peringkat 48 kota termahal di dunia untuk ekspatriat, jauh di atas Berlin (peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC (83). Nah, kalau untuk ekspatriat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang pendapatan per kapita DI BAWAH $1000??
Curiously, Jakartans are silent. They have become inured to appalling air quality just as they have gotten used to the sight of children begging, even selling themselves at the major intersections; to entire communities living under elevated highways and in slums on the shores of canals turned into toxic waste dumps; to the hours-long commutes; to floods and rats.
Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka pasrah akan kualitas udara yang jelek, terbiasa dengan pemandangan pengemis di perempatan jalan, dengan kampung kumuh di bawah jalan layang dan di pinggir sungai yang kotor dan penuh limbah beracun, dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dan tikus.
But if there is to be any hope, the truth has to eventually be told, and the sooner the better. Only a realistic and brutal diagnosis can lead to treatment and a cure. As painful as the truth can be, it is always better than self-deceptions and lies. Jakarta has fallen decades behind capitals in the neighbouring countries in aesthetics, housing, urban planning, standard of living, quality of life, health, education, culture, transportation, food
quality and hygiene. It has to swallow its pride and learn from Kuala Lumpur, Singapore, Brisbane and even in some instances from its poorer neighbours like Port Moresby , Manila and Hanoi.
Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti akan terucap, dan semakin cepat semakin baik. Hanya diagnosis kejam dan realistis yang bisa mengarah pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran, tetap saja lebih baik ketimbang dusta dan penipuan. Jakarta telah tertinggal jauh di belakang ibukota lain negara tetangga dalam hal estetika, pemukiman, kebudayaan, transportasi, dan kualitas dan higiene makanan. Sekarang Jakarta telah kehilangan kebanggaan dan mesti belajar dari Kuala Lumpur, Singapura, Brisbane, dan bahkan dalam beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin seperti Port Moresby, Manila, dan Hanoi.
Comparative statistics have to be transparent and widely available. Citizens have to learn how to ask questions again, and how to demand answers and accountability. Only if they understand to what depths their city has sunk can there be any hope of change. "We have to watch out," said a concerned Malaysian filmmaker during New Year's Eve celebrations in Kuala Lumpur . " Malaysia suddenly has too many problems. If we are not careful, Kuala Lumpur could end up in 20 or 30 years like Jakarta!"
Data statistik harus transparan dan tersedia luas. Warga harus belajar bertanya dan bagaimana untuk memperoleh jawaban dan akuntabilitas. Hanya kalau mereka memahami seberapa dalamnya kota mereka telah terperosok, maka barulah ada harapan. "Kita harus berhati-hati" kata produser film Malaysia dalam perayaan tahun baru di Kualalumpur. " Malaysia punya banyak masalah. Kalau kita tidak hati-hati, dalam 20-30 tahun Kuala Lumpur akan bernasib sama seperti Jakarta!"
Could this statement be reversed? Can Jakarta find the strength and solidarity to mobilize in time catch up with Kuala Lumpur ? Can decency overcome greed? Can corruption be eradicated and replaced by creativity? Can private villas shrink in size and green spaces, public housing, playgrounds, libraries, schools and hospitals expand?
Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dan solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kuala Lumpur? Mampukah kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti dengan kreatifitas? Akankah ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan hijau, perumahan publik, taman bermain, perpustakaan,
sekolah dan rumah sakit berkembang JAKARTA pesat?
An outsider like me can observe, tell the story and ask questions. Only the people of Jakarta can offer the answers and solutions.
Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati, bercerita, dan bertanya. Dan hanya masyarakat Jakarta yang punya jawaban dan solusinya.
(Diposting oleh Pak Irhamna Robby untuk Milis Zamrud Blok S)
Rabu, 07 April 2010
Menjadi Manusia Efektif
Efektif adalah mengoptimalkan usaha sehingga memberikan hasil maksimal. Menjadi manusia efektif berarti menjadi pribadi yang bisa memanfaatkan potensi dirinya sehingga menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya.
Stephen Covey melalui bukunya The Seven Habits of Highly Effective People menjelaskan suatu konsep tingakatan perkembangan pribadi manusia dalam komunitasnya, yaitu:
1. Ketergantungan
2. Kemandirian
3. Kesalingtergantungan
Untuk mencapai tingkatan kemandirian, seorang manusia perlu meraih suatu "kemenangan pribadi" dengan cara membiasakan diri dengan kebiasaan yang efektif, yaitu:
1. Bersifat proaktif, atau kecenderungan untuk bertindak.
2. Mulai dari akhir, yaitu berorientasi pada hasil akhir.
3. First thing first, mendahulukan yang utama.
Orang yang telah mampu meraih "kemenangan publik" akan mencapai tingkatan paling tinggi yaitu kesalingtergantungan. Ada 3 kebiasaan efektif yang akan membawa seseorang meraihnya, yaitu:
4. Prinsip win-win solusion dalam memecahkan perselisihan.
5. Berusaha mengerti dulu baru meminta dimengerti.
6. Berusaha mencapai sinergi dengan orang lain.
Setelah itu perlu sebuah kebiasaan yang ke-7 yaitu mengasah gergaji, yang berarti selalu mengasah ketajaman ke-6 kebiasaan efektif tersebut.
//Tegoeh.
Stephen Covey melalui bukunya The Seven Habits of Highly Effective People menjelaskan suatu konsep tingakatan perkembangan pribadi manusia dalam komunitasnya, yaitu:
1. Ketergantungan
2. Kemandirian
3. Kesalingtergantungan
Untuk mencapai tingkatan kemandirian, seorang manusia perlu meraih suatu "kemenangan pribadi" dengan cara membiasakan diri dengan kebiasaan yang efektif, yaitu:
1. Bersifat proaktif, atau kecenderungan untuk bertindak.
2. Mulai dari akhir, yaitu berorientasi pada hasil akhir.
3. First thing first, mendahulukan yang utama.
Orang yang telah mampu meraih "kemenangan publik" akan mencapai tingkatan paling tinggi yaitu kesalingtergantungan. Ada 3 kebiasaan efektif yang akan membawa seseorang meraihnya, yaitu:
4. Prinsip win-win solusion dalam memecahkan perselisihan.
5. Berusaha mengerti dulu baru meminta dimengerti.
6. Berusaha mencapai sinergi dengan orang lain.
Setelah itu perlu sebuah kebiasaan yang ke-7 yaitu mengasah gergaji, yang berarti selalu mengasah ketajaman ke-6 kebiasaan efektif tersebut.
//Tegoeh.
TOTALITAS TOTAL FOOTBALL
Catatan Sepakbola
Liza Arifin - detiksport
London - Total Football bagi saya adalah sistem permainan sepakbola yang paling menarik. Tetapi memahami Total Football ternyata tidak segampang yang saya duga. Berulangkali membaca berbagai literatur dan artikel sepakbola, susah menemukan penjelasan mengapa dan bagaimana Total Football muncul. Hanya dengan memahami mengapa dan bagaimana, kita bisa memahami esensi sesuatu.
Yang standar tentu saja kita tahu bahwa sistem ini pertama kali muncul di Belanda dengan permainan bertumpu pada fleksibilitas pertukaran posisi pemain yang mulus. Posisi pemain sekadar kesementaraan yang akan terus berubah sesuai kebutuhan. Karenanya, semua pemain dituntut untuk nyaman bermain di semua posisi.
Penjelasan paling memuaskan malah bukan saya dapat dari orang Belanda, melainkan seorang penulis Inggris yang tergila-gila dengan sepakbola Belanda. David Winner menulis buku yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira berjudul, "Oranye Brilian -- Jenius dan Gilanya Sepakbola Belanda".
Orang Belanda sendiri sampai terkagum-kagum dan mengatakan, ''Ah, jadi begitukah cara berpikir kami.'' Banyak pemain bola Belanda seperti tersadarkan pada sosok yang berada di dalam kaca ketika mereka bercermin.
Winner tidak membahas sepakbola semata. Menurutnya Total Football hanyalah pengejawantahan ''psyche'' paling dasar warga Belanda dalam memahami kehidupan. Benang merah Total Football juga ada dalam karya seni, arsitektur, dan bahkan tatanan sosial budaya masyarakat Belanda.
Berlebihan? Mungkin. Namun penjelasannya sungguh masuk akal.
Kita semua tahu ukuran lapangan sepakbola lebih kurang sama di mana-mana, sehingga ruang permainan selalu sebenarnya sama. Tapi orang Belanda sadar bahwa ruang juga adalah persoalan abstrak di dalam kepala. Membesar dan mengecilnya ruang tergantung pada cara mengeksploitasinya.
Total Football, demikian jelas buku itu, adalah persoalan ruang dan eksploitasinya itu, bukan yang lain. Fleksibilitas posisi pemain, pergerakan pemain, semuanya adalah konsekuensi dari upaya untuk menciptakan ruang agar bisa dieksploitir semaksimal mungkin.
Prinsip dasarnya sebenarnya sangat sederhana. Besar kecilnya lapangan sepakbola walau ukurannya sama, tetapi di benak bisa berubah tergantung siapa yang bermain di dalamnya.
Misalnya, begitu pemain Belanda menguasai bola maka mereka akan membuat lapangan seluas mungkin. Pemain bergerak ke setiap jengkal ruang yang tersedia. Di benak lawan lapangan akan tampak begitu lebar.
Atau, begitu lawan menguasai bola, ruang harus dibuat sesempit mungkin. Pemain yang terdekat dengan pemain lawan yang menguasai bola dituntut untuk menutupnya secepat mungkin, tidak peduli apakah itu pemain bertahan atau bukan. Bisa satu bisa dua, bahkan tiga. Tekanan harus dilakukan secepat mungkin bahkan ketika bola masih ada di jantung pertahanan lawan. Lawan terjepit dalam benak bahwa lapangan begitu sempit.
Memperlebar atau mempersempit ruangan di benak lawan tentu bukan barang mudah. Harus ada kemampuan untuk mencari ruangan. Pergerakan yang kompak. Cara mengumpan bola yang eksploitatif atas ruang yang tersedia, entah melengkung, lurus, melambung, dll. Pendeknya dibutuhkan pemahaman geometri ruangan yang tidak sederhana.
Persoalannya adalah, mengapa hal ini tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya? Dan mengapa orang Belanda yang bisa melakukannya?
Jawabnya, menurut buku itu, didapat dari kondisi alam Belanda.
Bangsa Belanda secara intrinsik bangsa yang spatial neurotic (tergila-gila oleh ruangan ataupun pemanfaatannya). Kondisi alam memaksa mereka demikian. Lima puluh persen tanahnya berada di bawah permukaan laut. Sementara sisanya terlalu sempit untuk jumlah penduduk yang berjubel.
Terus menerus bangsa ini melakukan reklamasi untuk memperluas daratan. Dengan sadar persoalan tanah mereka atur dengan sangat disiplin dan ketat. Eksistensi bangsa ini tergantung bagaimana mereka merawat tanah yang tak seberapa mereka punya. Kanal, selokan air, bendungan kecil dan besar, teratur rapi membelah setiap jengkal tanah yang mereka punya.
Belanda hingga saat ini adalah negara paling padat dalam ukuran per meter persegi, dan pengaturan tanahnya adalah yang paling teratur di muka bumi.
Namun seberapa pun mereka mencoba, seberapa pun disiplinnya, tanah tidak akan pernah cukup tersedia.
Lalu apa yang dilakukan?
Jawabnya ada di daya khayal, di benak, di alam abstraksi. Di samping secara fisik mereka mencoba memperluas wilayah darat mereka, mereka juga menciptakan ruang yang luas dialam khayal mereka.
Kalau Anda kebetulan datang ke Eropa, bandingkanlah tata kota Belanda dengan negara lain. Kita akan segera sadar bahwa Belanda memang lebih sempit tapi tata kotanya dibuat sedemikian rupa rapi, sehingga terasa sangat longgar. Dibanding negara manapun di dunia, tata kota di Belanda adalah yang paling kompak di dunia.
Arsitektur bangunannya, baik yang tua maupun modern, terasa sangat inovatif, dengan sudut yang sering tidak normal, bentuk bangunan yang tidak umum, aneh, tetapi kesannya selalu sama—longgar dan lapang. Karena semua lekuk ketidaknormalan adalah bagian dari upaya untuk menciptakan ruang tambahan di alam khayal tadi.
Bahkan benak juga dilonggarkan untuk urusan norma sosial. Kalau etika Protestan semarak di Belanda di awal kelahirannya, sangatlah bisa dimengerti. Mereka secara instingtif akan memberontak terhadap segala sesuatu yang sifatnya mengukung. Dalam kasus kelahiran Protestan tentu saja pemberontakan atas kungkungan ajaran Katolik saat itu.
Proses itu terus berlanjut hingga sekarang. Kita tahu norma sosial Belanda adalah yang paling longgar di Eropa. Kelonggaran yang tetap diatur. Misalnya, mainlah ke Vondell Park di Amsterdam, bolehlah Anda menghisap ganja atau mariyuana dengan santai. Padahal di negara lain sembunyi-sembunyi pun Anda tidak boleh.
Jejak-jejak spatial neurotic ini bisa kita temukan dengan mudah di karya-karya seni mereka bahkan di kehidupan politik, tetapi kembali ke persoalan sepakbola, mentalitas pemain sepakbola juga sama persis. Ketika mereka turun ke lapangan, benak mereka selalu bermain-main dengan keinginan untuk menciptakan ruangan selonggar mungkin, lalu mengeksploitasinya.
Ketika Rinus Michel membawa Ajax menjadi juara Piala Champions tahun 1971, Eropa tersadarkan sebuah sistem baru yang mulai sempurna telah lahir. Sistem yang lahir dari psyche orang Belanda yang tergila-gila dengan ruang dan pemanfaatannya. Dan ketika Michel membawa Belanda ke final Piala Dunia 1974 lahirlah istilah Total Football.
Total Football sendiri sebenarnya meminjam penamaannya dari gerakan sosial yang digagas para arsitek-filosof terkemuka Belanda sekitar tahun 1970-an. Sebuah gerakan bernama Total. Memahami kehidupan perkotaan secara menyeluruh: mengatur urbanisasi, lingkungan, dan pemanfaatan energi dalam satu totalitas. Agar ruang yang tersedia di Belanda bisa termanfaatkan secara maksimal. Dan sepakbola adalah sebuah hiburan bagian dari pendekatan yang menyeluruh itu. Totalitas. Namanya: Total Football.
===
* Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London.
( a2s / arp )
Liza Arifin - detiksport
Yang standar tentu saja kita tahu bahwa sistem ini pertama kali muncul di Belanda dengan permainan bertumpu pada fleksibilitas pertukaran posisi pemain yang mulus. Posisi pemain sekadar kesementaraan yang akan terus berubah sesuai kebutuhan. Karenanya, semua pemain dituntut untuk nyaman bermain di semua posisi.
Penjelasan paling memuaskan malah bukan saya dapat dari orang Belanda, melainkan seorang penulis Inggris yang tergila-gila dengan sepakbola Belanda. David Winner menulis buku yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira berjudul, "Oranye Brilian -- Jenius dan Gilanya Sepakbola Belanda".
Orang Belanda sendiri sampai terkagum-kagum dan mengatakan, ''Ah, jadi begitukah cara berpikir kami.'' Banyak pemain bola Belanda seperti tersadarkan pada sosok yang berada di dalam kaca ketika mereka bercermin.
Winner tidak membahas sepakbola semata. Menurutnya Total Football hanyalah pengejawantahan ''psyche'' paling dasar warga Belanda dalam memahami kehidupan. Benang merah Total Football juga ada dalam karya seni, arsitektur, dan bahkan tatanan sosial budaya masyarakat Belanda.
Berlebihan? Mungkin. Namun penjelasannya sungguh masuk akal.
Kita semua tahu ukuran lapangan sepakbola lebih kurang sama di mana-mana, sehingga ruang permainan selalu sebenarnya sama. Tapi orang Belanda sadar bahwa ruang juga adalah persoalan abstrak di dalam kepala. Membesar dan mengecilnya ruang tergantung pada cara mengeksploitasinya.
Total Football, demikian jelas buku itu, adalah persoalan ruang dan eksploitasinya itu, bukan yang lain. Fleksibilitas posisi pemain, pergerakan pemain, semuanya adalah konsekuensi dari upaya untuk menciptakan ruang agar bisa dieksploitir semaksimal mungkin.
Prinsip dasarnya sebenarnya sangat sederhana. Besar kecilnya lapangan sepakbola walau ukurannya sama, tetapi di benak bisa berubah tergantung siapa yang bermain di dalamnya.
Misalnya, begitu pemain Belanda menguasai bola maka mereka akan membuat lapangan seluas mungkin. Pemain bergerak ke setiap jengkal ruang yang tersedia. Di benak lawan lapangan akan tampak begitu lebar.
Atau, begitu lawan menguasai bola, ruang harus dibuat sesempit mungkin. Pemain yang terdekat dengan pemain lawan yang menguasai bola dituntut untuk menutupnya secepat mungkin, tidak peduli apakah itu pemain bertahan atau bukan. Bisa satu bisa dua, bahkan tiga. Tekanan harus dilakukan secepat mungkin bahkan ketika bola masih ada di jantung pertahanan lawan. Lawan terjepit dalam benak bahwa lapangan begitu sempit.
Memperlebar atau mempersempit ruangan di benak lawan tentu bukan barang mudah. Harus ada kemampuan untuk mencari ruangan. Pergerakan yang kompak. Cara mengumpan bola yang eksploitatif atas ruang yang tersedia, entah melengkung, lurus, melambung, dll. Pendeknya dibutuhkan pemahaman geometri ruangan yang tidak sederhana.
Persoalannya adalah, mengapa hal ini tidak terpikirkan oleh orang lain sebelumnya? Dan mengapa orang Belanda yang bisa melakukannya?
Jawabnya, menurut buku itu, didapat dari kondisi alam Belanda.
Bangsa Belanda secara intrinsik bangsa yang spatial neurotic (tergila-gila oleh ruangan ataupun pemanfaatannya). Kondisi alam memaksa mereka demikian. Lima puluh persen tanahnya berada di bawah permukaan laut. Sementara sisanya terlalu sempit untuk jumlah penduduk yang berjubel.
Terus menerus bangsa ini melakukan reklamasi untuk memperluas daratan. Dengan sadar persoalan tanah mereka atur dengan sangat disiplin dan ketat. Eksistensi bangsa ini tergantung bagaimana mereka merawat tanah yang tak seberapa mereka punya. Kanal, selokan air, bendungan kecil dan besar, teratur rapi membelah setiap jengkal tanah yang mereka punya.
Belanda hingga saat ini adalah negara paling padat dalam ukuran per meter persegi, dan pengaturan tanahnya adalah yang paling teratur di muka bumi.
Namun seberapa pun mereka mencoba, seberapa pun disiplinnya, tanah tidak akan pernah cukup tersedia.
Lalu apa yang dilakukan?
Jawabnya ada di daya khayal, di benak, di alam abstraksi. Di samping secara fisik mereka mencoba memperluas wilayah darat mereka, mereka juga menciptakan ruang yang luas dialam khayal mereka.
Kalau Anda kebetulan datang ke Eropa, bandingkanlah tata kota Belanda dengan negara lain. Kita akan segera sadar bahwa Belanda memang lebih sempit tapi tata kotanya dibuat sedemikian rupa rapi, sehingga terasa sangat longgar. Dibanding negara manapun di dunia, tata kota di Belanda adalah yang paling kompak di dunia.
Arsitektur bangunannya, baik yang tua maupun modern, terasa sangat inovatif, dengan sudut yang sering tidak normal, bentuk bangunan yang tidak umum, aneh, tetapi kesannya selalu sama—longgar dan lapang. Karena semua lekuk ketidaknormalan adalah bagian dari upaya untuk menciptakan ruang tambahan di alam khayal tadi.
Bahkan benak juga dilonggarkan untuk urusan norma sosial. Kalau etika Protestan semarak di Belanda di awal kelahirannya, sangatlah bisa dimengerti. Mereka secara instingtif akan memberontak terhadap segala sesuatu yang sifatnya mengukung. Dalam kasus kelahiran Protestan tentu saja pemberontakan atas kungkungan ajaran Katolik saat itu.
Proses itu terus berlanjut hingga sekarang. Kita tahu norma sosial Belanda adalah yang paling longgar di Eropa. Kelonggaran yang tetap diatur. Misalnya, mainlah ke Vondell Park di Amsterdam, bolehlah Anda menghisap ganja atau mariyuana dengan santai. Padahal di negara lain sembunyi-sembunyi pun Anda tidak boleh.
Jejak-jejak spatial neurotic ini bisa kita temukan dengan mudah di karya-karya seni mereka bahkan di kehidupan politik, tetapi kembali ke persoalan sepakbola, mentalitas pemain sepakbola juga sama persis. Ketika mereka turun ke lapangan, benak mereka selalu bermain-main dengan keinginan untuk menciptakan ruangan selonggar mungkin, lalu mengeksploitasinya.
Ketika Rinus Michel membawa Ajax menjadi juara Piala Champions tahun 1971, Eropa tersadarkan sebuah sistem baru yang mulai sempurna telah lahir. Sistem yang lahir dari psyche orang Belanda yang tergila-gila dengan ruang dan pemanfaatannya. Dan ketika Michel membawa Belanda ke final Piala Dunia 1974 lahirlah istilah Total Football.
Total Football sendiri sebenarnya meminjam penamaannya dari gerakan sosial yang digagas para arsitek-filosof terkemuka Belanda sekitar tahun 1970-an. Sebuah gerakan bernama Total. Memahami kehidupan perkotaan secara menyeluruh: mengatur urbanisasi, lingkungan, dan pemanfaatan energi dalam satu totalitas. Agar ruang yang tersedia di Belanda bisa termanfaatkan secara maksimal. Dan sepakbola adalah sebuah hiburan bagian dari pendekatan yang menyeluruh itu. Totalitas. Namanya: Total Football.
===
* Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London.
( a2s / arp )
Senin, 22 Maret 2010
MENGAPA KITA SULIT MEMINTA MAAF

KOMPAS.com - Kita pasti pernah membuat kesalahan, sekecil apa pun. Misalnya saja, Anda berbincang dengan teman, dan tanpa Anda sadari Anda telah berkata kasar dan menyakiti perasaannya. Memang sih, Anda tidak bermaksud jahat. Bahkan teman Anda juga tidak merasa tersinggung dengan perkataan Anda. Namun, tetap saja ada perasaan tidak enak dan canggung.
''Kita terkadang melakukan kesalahan tanpa sengaja. Permintaan maaf yang tulus dan disertai dengan jabat tangan akan menghilangkan rasa canggung,'' ujar Jennifer Thomas, penulis buku The Five Languages of Apology.
Meskipun demikian, tak dapat dipungkiri bahwa meminta maaf adalah salah satu hal yang paling sulit kita lakukan.
* Kenapa sulit meminta maaf?
Meminta maaf mungkin bukan sifat Anda. ''Beberapa orang menganggap meminta maaf berhubungan dengan harga diri dan menunjukkan kelemahan diri,'' ujar Beverly Engel, penulis buku The Power of Apology.
Ingat, meminta maaf adalah bentuk penyembuhan harga diri dan memberikan kesempatan orang lain untuk memaafkan Anda. Selain itu, meminta maaf mengobati hubungan yang ada.
* Apa yang harus dikatakan?
Hal yang terpenting adalah etiket dan sikap Anda. ''Jika Anda meminta maaf tanpa didasari kesungguhan dan hanya sekadar mengucapkan saja, tidak akan ada maknanya,'' ujar Engel.
Engel lalu memberikan tiga poin penting dalam meminta maaf:
1. Mempertimbangkan hubungan dengan lawan bicara Anda. Sadari bahwa hubungan pertemanan atau jalinan asmara yang Anda bina selama ini penting untuk dipertahankan. Jika Anda sudah menentukan hal ini, maka Anda akan menyadari betapa pentingnya meminta maaf.
Membuat kesalahan pada teman jangan dijadikan kebiasaan. Anda bersikap tanpa rasa bersalah dan berharap semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu? ''Serius meminta maaf akan membuat Anda dihargai,'' ujar Lauren Bloom, penulis buku The Art of Apology.
2. Ekspresikan perasaan menyesal. Saat mengatakan Anda menyesal, tunjukkan empati dan perasaan Anda. Anda menyadari bahwa Anda telah berbuat salah dan menyakiti orang lain. ''Jangan tersenyum atau terlihat tinggi hati saat meminta maaf,'' ujar Engel.
Tunjukkan bahwa Anda bertanggung jawab dan punya kemauan untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi. Tak ada gunanya mencari-cari kesalahan orang lain. Jangan menunjukkan sifat defensif atau mencari-cari alasan pembenaran. Katakan saja singkat, Anda bersalah!
3. Cari obatnya. Anda merasa bersalah dan ingin membayar kesalahan itu? Cukup dengan menumpahkan perasaan Anda pada orang yang Anda percaya. Cara lainnya adalah mencari hiburan seperti membaca buku yang bisa membuat Anda melupakan kejadian yang ada.
* Apa yang terjadi selanjutnya?
Setelah meminta maaf, sabar dan tunggulah reaksi rekan Anda. Tidak semua orang bisa memaafkan dengan cepat. ''Jangan menekan atau mencecar lawan bicara untuk meminta jawaban segera,'' ujar Engel. Jika cara ini tidak berhasil, coba dengan cara lain. Contohnya lewat email atau SMS untuk mengungkapkan penyesalan Anda.
(sumber : http://female.kompas.com/read/xml/2010/03/22/18024335/Mengapa.Kita.Sulit.Meminta.Maaf)
Langganan:
Postingan (Atom)






